Marketing executive Ray White

Sebelum mengetahui seluk beluk suatu pekerjaan, alangkah baiknya kita mencari tahu dulu sebelum men-judge suatu pekerjaan dengan penilaian kita. Seperti saya, sebelum saya mengetahui bagaimana menjadi marketing, saya mengira marketing hanya mementingkan target dari perusahaannya atau hanya mementingkan komisi untuk dirinya. Setelah saya menjalaninya, sebagai marketing executive Ray White, akhirnya saya dapat berbicara sedikit tentang bagaimana seorang marketing itu.

sumber gambar [marketing.midwestmarketingllc(dot)com/]

Sumber gambar [marketing.midwestmarketingllc(dot)com/]

Tulisan ini bisa dibilang curcol saya, karena tidak ada yang diajak ngobrol malam-malam, soalnya sudah posisi di rumah.🙂 Setelah saya menjalani sebagai marketing executive Ray White, saya memiliki beberapa kesimpulan positif dari pengalaman pribadi, tanpa ada sumber lainnya selain pengalaman yang sudah saya jalani sebagai marketing. Pembicaraan saya ini adalah sebagai marketing Ray White, bukan marketing lainnya, artinya, menjadi marketing Ray White berhubungan dengan properti. Di dalam jual beli properti ini sangat menarik, sekaligus menegangkan. Menariknya di mana dan menegangkannya di mana, berikut ini sedikit pengalaman saya dan menjadi penilaian saya, bagaimana seorang marketing itu.

  1. Memiliki motivasi tinggiMarketing yang mendapatkan target dari atasannya sudah terbiasa untuk kerja keras sehingga tercapai target tersebut, kadar Self Motivation-nya sangat besar, bahkan itu tanpa ada pengaruh dari luar, seandainya seorang marketing memiliki motivasi yang, maaf, kecil, dia pasti tetap aktif pada saat [terpuruk] itu untuk mencari asupan gizi motivasi untuk dirinya. Kenapa begitu, karena seorang marketing pasti berhadapan dengan bermacam-macam jenis karakter orang dan itu menguras pikiran berikut tenaganya. Akan tetapi tidak begitu berlaku bagi seorang marketing yang dari awal sudah menyadari akan menghadapi hal itu, dia pasti sudah menyiapkan banyak cadangan untuk menemukan jalan keluar dari masalah-masalah yang kemungkinan akan dia hadapi.
    Kesimpulannya, seorang marketing adalah seorang yang memiliki ketahanan sosial yang kuat, istilah jawanya “Rai Gedek”. Tapi, mereka tetap tahu batasan-batasan dalam bersosial, karena di sini saya hanya membahas nilai positifnya.
  2. Berkembang dalam bersosialApa maksudnya berkembang dalam bersosial, karena yang saya sharing-kan ini di dunia properti, jadi saya juga memberikan alasannya di dunia marketing properti. Berkembang dalam bersosial maksudnya mereka dalam mendapatkan listing [properti yang akan dijual/disewakan], mereka pasti berbicara [via telepon/langsung] dan bertemu dengan para vendor [pemiliki properti], di sinilah mereka semua berkembang secara sosial. Banyak sekali penyebab para vendor menjual propertinya, ada yang karena kebanyakan properti jadi bingung siapa yang menempati [belum pernah tau kasus ini], ada yang karena butuh uang untuk modal usaha, karena untuk membayar tagihan, banyak lainnya. Di sinilah seorang marketing akan berperan sebagai pendengar setia, sukur-sukur bisa memberikan jalan keluar bagi mereka. Dari sini juga kehebatan seorang marketing diuji, karena seringnya berurusan dengan hal yang seperti ini pastilah seorang marketing akan terus berkembang dalam menyikapi setiap keadaan.
  3. Peta berjalanSudah jelas, dimana ada rumah, di situ ada jalan, ada nomer rumah, ada nama kelurahan, ada nama kecamatan, ada nama gang, dan juga beberapa destinasi yang terkenal yang dekat dengan rumah tersebut. Hal ini tidak hanya berlaku untuk rumah saja, juga berlaku untuk tanah, pabrik, toko, dan properti lainnya. Untuk mencapai taraf ini juga butuh waktu, tidak cukup satu bulan untuk benar-benar memahami lokasi secara mendetail. Inilah kelebihan lain yang dimiliki seorang marketing properti.

Tiga hal di atas yang saya tahu untuk proses saya saat ini, mungkin dengan berjalannya waktu saya akan menambahkan hal-hal positif lainnya. Di dunia properti sangat menarik sekali, karena di dunia properti kita akan tahu update harga tanah, rumah, ruko, pabrik, condotel, hotel, apartemen, dan jenis properti yang lainnya. Dengan luasnya pengetahuan akan hal itu, seorang marketing akan mulai merambah ke pengetahuan lainnya, mengenai harga material bangunan dan lainnya [khusus yang sudah expert]

Di dunia properti juga menegangkan, karena didunia properti urusannya dengan uang yang tidak sedikit, ketika seorang marketing salah pasang harga dan calon pembeli sudah sangat suka dengan properti yang kita tawarkan, dan sudah melakukan akad jual beli [AJB] di notaris, bisa-bisa marketing kena tuntut, masuk “hotel” deh.😀 Semoga saya tidak merasakan hal-hal yang mengerikan tersebut. Aamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s